Menu Home

Zalimnya Ongkos Naik Haji

Dua hari yang lalu saya sampai tercengang dibuatnya saat membaca berita di koran tentang “Daftar Tunggu Haji” untuk kota Pontianak yang sudah mencapai 21 tahun. Sedih rasanya hati ini, kala harus menerima kenyataan bahwa jika kita mendaftar haji hari ini maka kita Insya Allah baru bisa berangkat 21 tahun yang akan datang. Yah walaupun tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT untuk mempercepat atau memperlambat keberangkatan hamba-hamba-Nya. Terlepas dari itu semua, di tulisan kali ini yang saya fokuskan adalah tentang Zalimnya sistem kuota Ongkos Naik Haji (ONH).

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pemerintah, uneg-uneg ini saya tulis sebagai kritik dan saran serta opini pribadi saya tentang carut marutnya kuota Ongkos Naik Haji (ONH). Seperti kita ketahui kalau tidak salah, setiap negara mendapatkan jatah / porsi sekitar 1% dari jumlah penduduk yang ada di negaranya masing-masing. Nah jatah ini kemudian dibagi-bagi untuk setiap daerahnya yang besarannya saya sendiri kurang tahu.

Sebenarnya menurut saya masalahnya bukan pada kuota dari masing-masing daerah yang ada, tapi ada beberapa masalah yang sudah seharusnya dapat dijadikan pelajaran agar tidak ada kezaliman dalam pengurusan Kuota Ongkos Naik Haji (ONH) ini, kezaliman-kezaliman tersebut antara lain:

1. Uang Muka Haji

Uang muka haji ini diperlukan agar setiap calon jamaah haji mendapatkan nomor porsi haji / nomor antrian pergi haji. Saat ini kalau tidak salah kurang lebih sekitar Rp. 25.000.000,-. Kezalimannya dimana? Kalo kita mao sedikit berpikir, kezalimannya adalah metode bayar dimuka sebesar Rp. 25 Jt tersebut. Kenapa Zalim? karena uang tersebut hanya mengunci nomor porsi haji namun tidak mengunci nilai uang saat ini.

Saat ini misalnya, saya bayar Rp. 25 Jt dan menurut nomor porsi haji Kota Pontianak saya baru bisa berangkat haji 21 tahun kemudian, maka Rp. 25 Jt saya itu tetap bernilai 25 Jt, sementara 21 tahun yang akan datang nilai Rp. 25 Jt itu karena inflasi menjadi tidak bernilai, sehingga jika 21 tahun yang akan datang ONH ditetapkan sebesar Rp. 200 Jt, maka saya diharuskan menambah kekurangan untuk menggenapkan menjadi Rp. 200 Jt.

Zalim bukan!!! Uang kita ditahan tidak bisa di apa-apakan, tidak bisa diputarkan dalam bisnis misalnya. Nah inilah menurut saya satu masalah utama yang menurut saya sangat zalim, di sinia Pemerintah tidak mampu untuk menjaga nilai harta dari Uang Muka Haji yang dibayarkan calon jamaah haji. Dan masalah demi masalah timbul terkait dengan Dana Abadi Umat ini yang cenderung sangat mudah untuk diselewengkan.

2. Sistem Kredit Haji

Setahu saya Haji itu bagi yang sudah mampu, alias memiliki uang lebih yang dikumpulkan dengan segenap kemampuannya untuk menjalankan perintah Allah SWT untuk berhaji. Masalahnya atau kezalimannya adalah metode kapitalis untuk mendapatkannya terlepas saat ini rata-rata memberikan embel-embel syariah di atasnya.

Kredit Haji, salah satu metode kapitalis yang membuat orang yang sebenarnya tidak mampu atau belum mampu menjadi mampu yang dipaksakan. Dan inilah yang menjadi salah satu biang kerok antrian yang makin lama makin menjadi-jadi karena semakin mudahnya orang-orang untuk mendapatkan kredit untuk Ongkos Naik Haji.

Haji menjadi komoditas bisnis… Sedih banget kan…

3. Haji yang Zalim

Selain 2 kezaliman yang sudah saya sebut di atas, kezaliman dari Haji yang Zalim juga merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab kacaunya kuota Ongkos Naik Haji (ONH).

Saya tertarik dengan pendapatnya Alm. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub :

Menurut Ali Mustafa, ketika masih banyak orang miskin dan anak yatim piatu yang telantar, masih ada ribuan orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, lalu kita pergi haji berkali-kali, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah, ataukah karena dorongan agar ingin disebut saleh dan menjadi orang-orang terhormat di lingkungan masyarakat?

Jika motivasinya yang terakhir, maka ibadah haji kita bukan karena Allah melainkan karena setan.

Jangan dikira, setan hanya menyuruh manusia berbuat jahat. Setan juga bisa menyuruh manusia untuk beribadah. Sebagai contoh, setan pernah menyuruh sahabat Abu Hurairah untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan, menurut Ali Mustafa, bukan lagi ibadah melainkan maksiat.

Dalam beropini, Insya Allah saya juga mencoba untuk memberikan solusi untuk mengatasi masalah-masalah kezaliman ini. Walaupun saya sendiri bukan pakar, namun dari hati yang terdalam dan dengan niat yang tulus saya mencoba menghimpun solusi-solusi yang bisa diterapkan, antara lain:

1. Solusi Uang Muka Haji

Saya hanya ingin menyampaikan satu buah kisah yang diambil dari hadits (cari sendiri ya hehehe) bahwa ada sahabat yang minta bantuan kepada Rasulullah, dan setelah itu Rasulullah memberi sahabat tersebut 1 Dinar emas yang kemudian dibelikannya 2 ekor kambing (karena pandai dalam menawar).

Kemudian ada lagi kisah tentang Ashabul Kahfi, yang ditidurkan Allah selama kurang lebih 300 tahun, dan saat terbangun mereka belanja makanan di pasar menggunakan Dirham Perak yang mereka miliki.

Dari 2 kisah yang saya sebutkan, saya rasa mampu kita jadikan pelajaran bahwa komoditas seperti emas dan perak mampu menjaga nilai dari harta yang kita miliki. Jaman Rasul, 1 Dinar Emas cukup untuk beli kambing dan 1400 tahun kemudian (saat ini) 1 Dinar Emas pun cukup untuk beli 1 – 2 ekor kambing.

Jaman Ashabul Kahfi, Jaman Rasul, 1 Dirham cukup untuk beli 1 ekor Ayam, maka saat ini ribuan tahun kemudian tetap cukup untuk membeli 1 ekor ayam.

Maka mata uang atau komoditas mana lagi yang bisa dipercaya selain emas dan perak. Logam mulia ini mampu menjaga nilai harta kita, mampu menahan gejolak inflasi, semakin tinggi inflasi maka semakin tinggi pula harga emas, dan logam mulia ini bisa dijual dimana saja diseluruh dunia, setiap orang pasti suka dengan yang namanya logam mulia, siapa saja tanpa kecuali.

Nah, kenapa kita tidak menerapkan Uang Muka Haji atau Ongkos Naik Haji dengan satuan Emas. Misalnya Ongkos Naik Haji sebesar 50 Gram Emas 24 karat. Lantas emas ini bisa disimpan sebagai cadangan devisa negara. Hitung saja anggap saja Kuota Haji sebesar 200 rb, maka 200 rb x 50 gram = 10 Ton.

10 Ton tiap tahunnya, negara kita akan menjadi kaya dengan cadangan devisa yang demikian besarnya. Dan selain itu karena kemampuan emas dalam menjaga nilai dari harta yang kita miliki, maka saat waktunya keberangkatan haji, Ongkos Naik Haji yang diperlukan tetap mampu diimbangi dengan harga jual emas yang setiap tahun semakin meningkat, bahkan jamaah kemungkinan besar akan mendapatkan keuntungan tambahan dari hasil jual emas yang dimilikinya. Sehingga calon Jamaah tidak diberatkan untuk menambah sisa Ongkos Naik Haji lagi.

2. Solusi Sistem Kredit Haji

Tidak ada solusi yang lebih baik dari menghapus dan melarang sistem kredit haji ini, tidak ada istilah dana talangan, dan Pemerintah harus berani dalam menerapkan aturannya. Saya jadi ingat zaman Alm Emak dan Alm Bapak pergi Haji, Daftar tahun ini maka tahun depan langsung berangkat. Jaman itu belum ada yang namanya sistem talangan Haji alias sistem kredit Haji. Kekacauan Kuota Haji dengan masalah utama antrian yang semakin panjang dikarenakan karena adanya Dana Talangan alias Kredit Haji.

3. Solusi Haji yang Zalim

Kalau untuk masalah ini, yang bisa kita lakukan adalah berdoa agar semakin banyak saudara-saudara kita yang sadar bahwa “Rasulullah saja pergi Haji cuma 1 kali kok”. Alangkah lebih baik kelebihan uangnya disedekahkan untuk orang-orang susah di negeri ini.

Dan Pemerintah pun harus tegas, yang sudah Haji langsung di Blacklist istilah kasarnya.


Dan ini adalah Opini saya, bagaimana menurut Anda ? 🙂

Categories: Opini

Tagged as:

rizko

Tinggalkan Balasan