Menu Home

Yuk Kita Saling Kafir Mengkafirkan

Kadang saya bingung dan disitu saya merasa sedih, kok ya telinga-telinga bangsa kita, bangsa Indonesia ini cepet banget merahnya, apalagi jika mendengar 1 kata sakti “kafir”.

Padahal beberapa tahun yang lalu, mungkin 15 tahun yang lalu, ada anak kos bersuku batak bermarga Lubis yang sering di ledekkin “Dasar Batak Kafir lo” hehehe, dan Alhamdulillah gak pernah sampe kuping merah dan ngamuk-ngamuk setelahnya.

Arti kata “Kafir” sendiri setahu saya yang awam ini adalah “ingkar / menyembunyikan / menolak” berasal dari asal kata bahasa Arab yang kemudian di Indonesiakan, sebenarnya dalam tata bahasa acak kadul saya gak ada yang salah dengan kata ini dalam penggunaannya di obrolan bebas.

Memang saat ini kesannya hanya orang beragama Islam yang boleh nyebut kata ini untuk dinisbatkan ke pemeluk agama lain dalam hal ini non Muslim. Padahal menurut saya, karena kata “Kafir” ini sudah di “Indonesiakan“, non Muslim pun berhak nyebut dan menggunakan kata “Kafir” untuk menisbatkannya ke Muslim. Nah jadi kira-kira di mana letak kesalahannya, jika saya menyebut anda (non muslim) sebagai orang kafir ataupun sebaliknya anda menyebut saya (muslim) sebagai orang kafir, gak ada yang salah kan, dan Insya Allah saya gak akan marah jika disebut “Dasar kafir lo” oleh non Muslim atau bahkan Muslim sendiri hehehe.

Mangkanya sekarang saya mengajak anda semua untuk saling kafir mengkafirkan, biar terbiasa dengan kata-kata ini sehingga telinga tidak cepat merah dan emosi lebih terjaga sehingga persatuan serta kesatuan bangsa tetap terjaga.

Toh yang tahu kafir tidaknya pribadi hanyalah kita sendiri dan Tuhan.

 

Categories: Agama

Tagged as:

rizko

Tinggalkan Balasan