<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Jurnal on Kurnia Ramadhan — Jurnal &amp; Karya</title><link>https://ramadhan.me/tags/jurnal/</link><description>Recent content in Jurnal on Kurnia Ramadhan — Jurnal &amp; Karya</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Thu, 03 Sep 2026 11:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://ramadhan.me/tags/jurnal/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Mulai dari Siaga</title><link>https://ramadhan.me/posts/mulai-dari-siaga/</link><pubDate>Thu, 03 Sep 2026 11:00:00 +0700</pubDate><guid>https://ramadhan.me/posts/mulai-dari-siaga/</guid><description>&lt;p>Ruangannya kecil dan terang berlebihan, seperti kebanyakan ruang tunggu kantor pemerintah.
Jendela berteralis besi kuning, kursi tunggu besi tiga-sambung, teko air di atas meja kaca,
dan satu cangkir kopi yang sudah dingin sejak entah kapan.&lt;/p>
&lt;p>Di depan saya berdiri seorang bapak berjaket hitam-hijau. Punggungnya bertuliskan &lt;strong>RAPI
RIDERS — PONTIANAK KOTA&lt;/strong>, lengkap dengan logo gelombang yang memancar. Di sebelahnya, dua
orang berkemeja putih duduk sambil bicara pelan. Satu lagi anak muda menunduk ke ponselnya,
tas selempang masih tersandang.&lt;/p></description></item></channel></rss>