Jam sepuluh pagi tadi saya buka aplikasi kualitas udara, dan angkanya 1770.

Di bawahnya tulisan kecil: US AQI⁺. Polutan utama PM2.5, 963,0 µg/m³. Suhu 35 derajat, angin 5 km/jam, kelembapan 41 persen. Ikonnya gambar orang pakai masker gas.

Saya sudah beberapa minggu ini terbiasa melihat angka tiga digit — sejak Agustus, sebetulnya. Yang bikin saya berhenti sebentar pagi ini bukan digit keempatnya. Tanda plus kecil di sebelah “US AQI” itu.

Ke mana perginya angka setelah 500

Skala AQI Amerika berhenti di 500. Itu ujungnya, tidak ada lanjutannya. Kategori paling gawat, Hazardous, mencakup rentang 301 sampai 500, dan sesudah itu skalanya memang tidak menyediakan apa-apa lagi. Dirancang untuk kota yang sesekali buruk.

Tanda plus itu penanda bahwa aplikasinya sudah keluar dari skala resmi dan meneruskan garisnya sendiri. Saya penasaran meneruskannya pakai apa, jadi saya coba hitung.

Sejak revisi EPA Mei 2024, segmen teratas skala PM2.5 berjalan dari 225,5 µg/m³ (AQI 301) ke 325,4 µg/m³ (AQI 500). Kemiringannya keluar di angka 1,992 poin AQI per mikrogram. Kalau garis itu diteruskan lurus lewat 500:

Teks
(963,0 − 325,4) × 1,992 + 500 = 1770

Persis. Dan waktu saya coba dengan angka lain yang beredar pagi ini — media lokal di sini mengutip PM2.5 862 µg/m³ — hasilnya 1569, yang juga persis angka yang mereka sebut. Dua pembacaan, penyedia data yang sama, cuma beda beberapa menit.

Jadi 1770 itu bukan hasil pengukuran. Itu ekstrapolasi. Garis yang dipanjangkan lewat ujung tabelnya sendiri, dan saya tidak tahu apakah hubungan konsentrasi-ke-indeks masih punya arti di wilayah itu. Yang saya tahu cuma aritmetikanya cocok.

ISPU punya masalah yang mirip dari arah sebaliknya: kategori Berbahaya di Indonesia mulai dari 301 dan memang tidak dikasih atap sama sekali. Awal September lalu BNPB mencatat ISPU di Pontianak Tenggara menyentuh 1.016.

Angka yang lebih layak dipegang

Yang sebenarnya diukur adalah baris bawahnya: 963,0 µg/m³. Itu konsentrasi, bukan indeks.

Dua pembandingnya:

  • Pedoman WHO 2021 untuk PM2.5 rata-rata 24 jam: 15 µg/m³
  • Baku mutu nasional, PP 22/2021, rata-rata 24 jam: 55 µg/m³

963 itu sekitar 64 kali pedoman WHO dan 17,5 kali baku mutu kita sendiri. Juga hampir tiga kali konsentrasi yang sudah bikin skala AQI-nya habis.

Perbandingannya tidak sepenuhnya setara — yang saya lihat pembacaan sesaat, sementara kedua ambang itu untuk rata-rata 24 jam. Selisih sebesar ini tidak akan hilang cuma karena dirata-ratakan, tapi angkanya jelas akan turun. Saya tidak tahu turun sampai berapa.

Perbandingan konsentrasi PM2.5 Pontianak terhadap pedoman WHO, baku mutu nasional, dan ujung skala US AQI

Empat puluh satu persen

Dari semua angka di layar itu, yang paling ganjil justru yang paling kecil.

Pontianak duduk persis di garis khatulistiwa. Kelembapan di sini normalnya tujuh puluh sampai sembilan puluh persen, dan itu sebagian dari kenapa kota ini terasa seperti kota ini — udara yang selalu terasa ada isinya. Empat puluh satu persen jam sepuluh pagi bukan angka Pontianak.

Anginnya 5 km/jam. Udara kering, panas 35 derajat, dan hampir tidak bergerak ke mana-mana. Asap yang naik hari ini tidak punya tempat tujuan.

Yang terbakar di bawah tanah

Sebagian besar yang terbakar adalah gambut, dan itu yang bikin urusannya panjang. Api gambut tidak berhenti di permukaan. Ia turun ke lapisan bawah dan membara di sana, di luar jangkauan air yang disiram dari atas. Hujan sebentar bisa memadamkan yang kelihatan tanpa menyentuh yang di bawah, lalu asapnya naik lagi dua hari kemudian.

Per awal September, 72.009 hektare lahan gambut tercatat terbakar di enam provinsi prioritas. Kalimantan Barat menyumbang 28.680,47 hektare — porsi terbesarnya. BMKG Supadio sempat mencatat 2.434 titik panas di Kalbar dalam 24 jam; pada 8 September angkanya turun ke 1.057.

Pemprov Kalbar memperpanjang status tanggap darurat sampai 20 September, diumumkan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan dua hari lalu. Prakiraan kemaraunya sendiri baru berakhir sekitar pertengahan Oktober.

Yang sudah kelihatan angkanya

Kemenkes mencatat 113.336 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak sampai 9 September, tersebar di 63 kabupaten/kota. Yang berumur nol sampai lima tahun ada 26.545, sekitar 23 persen. Kalbar dilaporkan 1.337 kasus.

Kemenkes menambahkan catatan yang saya hargai: angka itu tidak selalu bisa dibandingkan langsung antar periode karena cakupan pelaporannya berbeda-beda. Laporan 27 Agustus menyebut 13.449 kasus kumulatif. Lompatan ke 113 ribu dalam dua minggu terdengar seperti kenaikan delapan kali lipat, dan mungkin sebagian besar memang begitu — tapi sebagian juga soal berapa banyak fasilitas kesehatan yang sempat melapor.

Sekolah sudah lama tidak normal. Belajar dari rumah diperpanjang lagi untuk 7–11 September; di Kalbar saja sekitar 1,1 juta siswa terdampak. Di Supadio, pesawat yang membawa Menteri Kehutanan gagal mendarat pada 3 September karena jarak pandang tinggal sekitar 100 meter.

Yang belum selesai

Saya tidak tahu berapa lama ini berlangsung. Prakiraannya pertengahan Oktober, tapi prakiraan kemarau pernah meleset ke dua arah.

Saya juga tidak tahu apa akibat jangka panjang menghirup angka segini selama berminggu-minggu. Yang tercatat sekarang ISPA, karena itu yang muncul cepat dan bisa dihitung di puskesmas. Yang tidak masuk tabel mana pun adalah apa yang terjadi pada paru anak umur tiga tahun yang menghabiskan September 2026 di kota ini. Kalau ada penelitian yang menelusuri kohort karhutla Indonesia sampai jauh ke depan, saya belum ketemu.

Dan daftar yang bisa saya lakukan pendek sekali: tutup jendela, pakai masker yang benar-benar menyaring — N95 atau KN95, masker bedah tidak menahan partikel seukuran PM2.5 — jangan olahraga di luar, jangan bakar apa pun. Itu daftar yang terasa tidak sebanding dengan angkanya, dan saya tidak punya tambahan.

Sekarang jam dua siang. Saya cek lagi, turun sedikit. Masih empat digit.

Catatan asumsi

  • Angka 1770 dan 963,0 µg/m³ saya ambil dari tangkapan layar aplikasi kualitas udara di ponsel saya, Sabtu 12 September 2026 pukul 10.00 WIB, di Pontianak. Satu titik, satu penyedia data, satu waktu. Pembacaan di kecamatan lain bisa beda jauh.
  • Rekonstruksi rumus AQI⁺ di atas hitungan saya sendiri, bukan dokumentasi resmi. Yang saya punya cuma bukti bahwa aritmetikanya mereproduksi dua angka yang beredar hari ini. Itu dugaan yang kuat, bukan konfirmasi.
  • Perbandingan 64× dan 17,5× menyandingkan pembacaan sesaat dengan ambang rata-rata 24 jam. Itu bukan perbandingan setara, dan saya tulis begitu supaya jelas.
  • Saya bukan dokter, bukan peneliti kualitas udara, dan tidak bekerja di instansi yang menangani ini. Saya penduduk kota ini yang kebetulan suka mengutak-atik angka.
  • Jangan percaya angka di blog orang, termasuk blog ini. Tautannya ada di bawah — kalau ada yang menentukan keputusan Anda, buka sendiri sumbernya.

Sumber