Mulai dari Siaga
Catatan dari ruang ujian UNAR tingkat Siaga di Kubu Raya: 65 soal, 120 menit, dan enam karakter yang keluar di ujungnya — YD7AQT.
Ruangannya kecil dan terang berlebihan, seperti kebanyakan ruang tunggu kantor pemerintah. Jendela berteralis besi kuning, kursi tunggu besi tiga-sambung, teko air di atas meja kaca, dan satu cangkir kopi yang sudah dingin sejak entah kapan.
Di depan saya berdiri seorang bapak berjaket hitam-hijau. Punggungnya bertuliskan RAPI RIDERS — PONTIANAK KOTA, lengkap dengan logo gelombang yang memancar. Di sebelahnya, dua orang berkemeja putih duduk sambil bicara pelan. Satu lagi anak muda menunduk ke ponselnya, tas selempang masih tersandang.
Rentang usianya jauh — mungkin tiga puluh tahun jaraknya antara yang termuda dan yang tertua di ruangan itu. Tapi pagi ini kami semua datang untuk hal yang sama: Ujian Negara Amatir Radio, tingkat paling dasar.
Nomor peserta 0001
Kartu peserta muncul di layar sebelum ujian dimulai. Saya membacanya dua kali karena satu baris terasa lucu: nomor peserta saya 0001.
Bukan prestasi apa-apa — hanya urutan pendaftaran. Tapi ada yang menyenangkan dari angka itu. Saya sedang memulai sesuatu dari betul-betul awal, dan nomornya pun ikut mengatakan begitu.
Sisanya kering dan jelas:
- 65 soal, pilihan ganda
- 120 menit
- Materi: Pancasila, Radio Regulation, Teknik Radio, Bahasa Inggris
- Sisa kesempatan ujian: 2 kali
Baris terakhir itu yang paling saya ingat. Melegakan sekaligus bikin agak tegang: hari ini bukan satu-satunya kesempatan, tapi jatahnya jelas ada ujungnya.
Dua jam yang tidak terasa dua jam
Saya kira 120 menit untuk 65 soal itu longgar. Ternyata longgar untuk sebagian, dan sempit untuk sebagian lain.
Soal regulasi bisa dijawab cepat kalau sudah dibaca — ia soal hafalan dan pemahaman aturan. Yang memakan waktu adalah teknik radio. Ada hitungan yang tidak bisa ditebak, dan ada pertanyaan yang menuntut Anda benar-benar membayangkan sesuatu: bagaimana sinyal merambat, apa yang terjadi di antena, kenapa impedansi harus cocok.
Satu hal yang tidak saya duga: tidak ada satu pun soal Bahasa Inggris yang muncul. Materi itu tercantum di kartu peserta, tapi di tingkat Siaga ia tidak keluar. Belakangan saya sadar kartu itu memang dicetak seragam untuk semua tingkat.
Membaca nilai sendiri
Layar hasil muncul beberapa saat setelah tombol selesai ditekan. Empat baris, dan satu angka di bawahnya:
| Materi | Nilai |
|---|---|
| Pancasila | 2,40 |
| Radio Regulation | 32,68 |
| Teknik Radio | 30,78 |
| Bahasa Inggris | 0,00 |
| Nilai akhir | 65,86 |
Lalu satu kata, dicetak besar dan sendirian di tengah: LULUS.
Yang menarik justru sebaran angkanya. Nilai-nilai itu bukan skor mentah, melainkan sudah berbobot — dan bobotnya jelas tidak rata. Regulasi dan teknik radio menyumbang hampir seluruh nilai akhir. Pancasila porsinya kecil, Bahasa Inggris nol karena memang tidak diujikan.
Jadi ujian ini punya pendapat yang cukup tegas soal apa yang dianggapnya penting: tahu aturannya, dan tahu cara kerjanya.
Kenapa radio, di tahun 2026
Pertanyaan yang wajar. Saya membawa ponsel dengan koneksi ke hampir seluruh dunia di saku celana, lalu duduk dua jam untuk menguji pemahaman tentang teknologi yang usianya lebih dari seabad.
Jawaban saya sebenarnya sudah saya tulis beberapa hari sebelumnya, di catatan tentang kemarau berlapis di Kalbar, tanpa saya sadari sedang menuju ke sini. Sepanjang musim itu saya melihat berapa banyak hal yang kita anggap pasti ternyata bergantung pada rantai yang panjang dan rapuh. Air keran bergantung pada hujan di hulu. Udara bersih bergantung pada gambut yang tidak kering.
Komunikasi juga begitu. Sinyal seluler bergantung pada menara, listrik, backhaul, dan sebuah perusahaan yang memutuskan bahwa daerah Anda cukup layak dilayani. Empat kebergantungan, dan semuanya bisa putus di hari yang sama.
Radio amatir tidak menghapus kerapuhan itu. Ia cuma menyediakan satu jalur yang kebergantungannya lebih sedikit — sebuah perangkat, sebuah antena, sebuah sumber daya, dan orang yang tahu cara memakainya. Di provinsi yang tiap tahun berurusan dengan asap, banjir, dan jarak, buat saya itu masuk akal disiapkan sebagai cadangan, bukan dikoleksi sebagai nostalgia.
Enam huruf dan angka
Yang paling berkesan datang belakangan, waktu tanda panggil saya keluar:
YD7AQT
Enam karakter, dan tidak satu pun dipilih sendiri. Semuanya diberikan, dan masing-masing mengatakan sesuatu.
- YD — prefiks untuk tingkat Siaga. Huruf ini akan berubah kalau saya naik tingkat nanti.
- 7 — wilayah panggil Kalimantan. Ini menempelkan saya pada tempat.
- AQT — suffiks urutan, bagian yang benar-benar milik saya sendiri.
Ada yang aneh rasanya punya nama yang diberikan negara, dieja pakai alfabet fonetik, dan dimaksudkan untuk diucapkan orang asing di frekuensi: Yankee Delta Seven Alpha Quebec Tango.
Tapi memang begitu fungsinya. Callsign itu alamat, bukan nama panggung. Di udara orang tidak perlu tahu siapa saya, cukup tahu ke mana harus menjawab.
Yang tersisa setelah lulus
Siaga adalah tingkat pertama dari tiga. Lulus hari ini artinya saya boleh mengurus izin dan memakai satu pita frekuensi dengan daya yang dibatasi. Bukan kewenangan besar. Persis seukuran namanya — dan huruf YD di depan tanda panggil saya mengumumkannya ke siapa pun yang mendengar.
Dan menurut saya urutannya memang masuk akal: dengarkan dulu, kenali tata caranya, tahu batas kewenangannya, baru bicara lebih jauh dan lebih kuat.
Bapak berjaket RAPI Riders itu sudah pergi waktu saya keluar ruangan. Entah dia peserta, pengurus, atau cuma mengantar. Tapi jaketnya masih terbayang sampai di jalan pulang: gelombang hijau yang memancar dari satu titik, di punggung orang yang lagi berdiri menunggu di kantor pemerintah di Kubu Raya.
Berikutnya tinggal mengurus izinnya, lalu cari tahu cara kerja net yang katanya jalan tiap malam.
Komentar
Berkomentar memerlukan akun GitHub. Tulisan Anda tersimpan sebagai diskusi publik di repositori situs ini.