Pagi ini saya membuka keran, dan airnya asin.

Bukan asin yang samar — asin yang membuat Anda berhenti sejenak dan memastikan tidak salah keran. Di luar, matahari sudah naik tapi warnanya jingga pudar, seperti dilihat lewat kaca kotor. Bau asap masuk lewat celah jendela yang tidak pernah benar-benar rapat.

Empat hal yang sedang jadi keluhan orang di sini — karhutla, kabut asap, air ledeng yang asin, dan antrean galon air tawar — biasanya dibicarakan terpisah. Satu urusan dinas kehutanan, satu urusan dinas kesehatan, satu urusan PDAM, satu lagi urusan masing-masing rumah tangga.

Padahal keempatnya adalah satu peristiwa yang sama, dilihat dari empat sisi.

Satu kemarau, dua jalur

Diagram: kemarau panjang bercabang menjadi jalur asap dan jalur air asin

Pangkalnya satu: hujan di hulu berhenti.

Dari situ ia bercabang. Di darat, lahan gambut yang kehilangan air berubah menjadi bahan bakar — gambut kering bisa menyala di bawah permukaan dan bertahan berhari-hari tanpa terlihat. Api menyebar, asapnya menetap karena tak ada angin dan tak ada hujan yang menurunkannya.

Di sungai, cerita yang sama berjalan terbalik. Debit Sungai Kapuas menyusut. Dan di sungai yang bermuara ke laut, air tawar dari hulu sebenarnya sedang bekerja: ia menahan air laut agar tidak naik ke hulu. Ketika debitnya turun, tekanan itu melemah, dan laut mengambil ruang yang ditinggalkannya.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskannya dengan kalimat yang jauh lebih ringkas daripada penjelasan mana pun yang bisa saya susun:

“Karena di hulu tidak hujan, tekanan dari hulu itu mengecil sehingga air pasang ini, air laut, masuk.”

Itu sebabnya menambal salah satu ujungnya tidak pernah menyelesaikan apa pun. Memadamkan api tidak membuat air keran tawar kembali. Menambah pasokan galon tidak membersihkan udara. Keduanya menunggu hujan yang sama.

Asap yang menetap

Angkanya bergerak cepat, dan ke arah yang salah.

Pada 19 Agustus, Kalimantan Barat mencatat 441 titik panas berkepercayaan tinggi. Sepuluh hari kemudian, 29 Agustus, angkanya 6.050 titik panas — dengan lonjakan hampir dua kali lipat hanya dalam satu hari. Sebarannya terpusat di Ketapang, Kubu Raya, dan Kayong Utara.

Yang sampai ke paru-paru kita adalah sisa dari itu semua. Dalam laporan penanganan karhutla Kementerian Kesehatan per 28 Agustus, Pontianak tercatat berstatus berbahaya dengan ISPU 328 — angka tertinggi di antara wilayah terdampak, sementara delapan wilayah lain berada di kategori sangat tidak sehat. Kasus infeksi saluran pernapasan akut naik sekitar 5 persen.

Untuk ukuran, kategori “berbahaya” pada ISPU adalah tingkat teratas. Ia tidak lagi berbicara tentang kelompok rentan saja; pada tingkat itu seluruh populasi berisiko terpengaruh.

Kota Pontianak menetapkan status darurat karhutla. Sanggau menaikkan statusnya dari siaga darurat menjadi tanggap darurat. Secara nasional, tujuh provinsi berada pada status siaga darurat — Kalimantan Barat salah satunya.

Air yang berubah rasa

Ini bagian yang paling sulit dijelaskan kepada orang yang tidak mengalaminya. Air ledeng tidak mati. Ia tetap mengalir, jernih, dengan tekanan yang normal. Ia hanya tidak bisa diminum.

Grafik batang salinitas air baku di empat intake PDAM Pontianak

Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa mengambil air baku dari beberapa titik di sepanjang Kapuas, dan pada 14 Agustus angkanya begini:

Titik pengambilanSalinitas (mg/l)
Nipah Kuning2.903
Selat Panjang±1.100
Imam Bonjol>700
Parit Mayor400–600

Sebagai pembanding, ambang klorida yang lazim dipakai untuk air minum berada di kisaran 250 mg/l — kira-kira titik ketika lidah mulai menangkap rasa asin. Nipah Kuning berada sebelas kali lipat di atasnya.

PDAM tidak diam. Air dari titik bersalinitas rendah seperti Imam Bonjol dicampur dengan yang tinggi untuk menurunkan kadar rata-rata. Tapi pengenceran punya batas aritmetika: kalau semua sumbernya asin, mencampurnya hanya menghasilkan asin yang lebih merata.

Ada satu detail yang layak dicatat baik-baik, karena berguna secara praktis: salinitas memuncak antara pukul 21.00 dan 04.00, mengikuti pasang. Artinya air yang Anda tampung sore hari hampir selalu lebih tawar daripada air yang Anda tampung tengah malam.

Antrean yang tidak masuk hitungan siapa pun

Lalu tibalah bagian yang paling mudah dilewatkan ketika kita membicarakan bencana lewat angka.

Warga mulai antre sejak pagi di depo-depo air isi ulang. Yang datang terlambat sering mendapati pasokan sudah habis. Sebagian rumah tangga membeli dua sampai tiga galon eceran per hari — bukan untuk minum saja, tapi untuk mencuci piring, mencuci sayur, dan menanak nasi.

Coba hitung pelan-pelan. Tiga galon sehari, tiga puluh hari. Itu sembilan puluh galon dalam sebulan, untuk pekerjaan yang bulan lalu dikerjakan oleh keran yang sudah dibayar lewat tagihan bulanan.

Bagi sebagian orang, itu pengeluaran tambahan yang menjengkelkan. Bagi sebagian yang lain, itu selisih antara cukup dan tidak cukup. Dan inilah yang membuat krisis air terasa berbeda dari krisis lain: ia diam-diam memungut pajak paling besar dari orang yang paling sedikit punya.

Antrean itu juga bukan sekadar soal uang. Ia soal waktu — pagi yang habis untuk berdiri menunggu, di udara ber-ISPU 328.

Yang bisa dilakukan sekarang

Tidak satu pun dari ini menyelesaikan pangkalnya. Tapi beberapa hal cukup penting untuk diketahui sebelum hujan datang.

Soal air payau

  • Merebus tidak menghilangkan garam. Ini kesalahpahaman yang paling berbahaya. Merebus membunuh kuman, tapi yang menguap adalah airnya — garamnya tertinggal. Air payau yang direbus justru menjadi lebih asin, bukan kurang.
  • Untuk minum dan menanak nasi, gunakan air galon atau air hujan yang ditampung bersih. Air ledeng payau masih bisa dipakai untuk mandi, mencuci pakaian, dan menyiram.
  • Yang perlu lebih berhati-hati: penderita hipertensi dan penyakit ginjal, ibu hamil, dan bayi. Beban natrium tambahan bukan hal sepele bagi mereka.
  • Tampung air pada sore hari, bukan tengah malam — mengikuti pola pasang di atas.

Soal asap

  • Masker kain dan masker bedah tidak menyaring PM2.5. Partikel halus asap karhutla lolos begitu saja. Yang menyaring adalah respirator N95 atau KN95, dan hanya jika terpasang rapat di sekeliling hidung dan dagu.
  • Buat satu ruang bersih di rumah: pilih satu ruangan, tutup celah jendela, dan jalankan penyaring udara bila ada. Tidak perlu seluruh rumah — satu ruangan tempat tidur sudah banyak membantu.
  • Tunda olahraga dan kerja fisik di luar ruangan. Bernapas dalam-dalam di udara seperti ini justru memperbanyak partikel yang masuk.
  • Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK adalah yang pertama terdampak. Pastikan obat pengendali asma tersedia dan tidak kedaluwarsa.

Catatan penutup

Yang mengganggu saya bukan kesulitannya. Kemarau selalu datang, dan orang di sini sudah lama tahu cara menyiasatinya.

Yang mengganggu adalah betapa mudahnya keempat hal ini dibicarakan sebagai empat berita terpisah — hotspot di satu kolom, ISPU di kolom lain, keluhan air PDAM di kolom ketiga, foto antrean galon di kolom keempat. Dipecah seperti itu, masing-masing terlihat seperti gangguan musiman yang akan selesai sendiri.

Disatukan, ia terlihat seperti apa adanya: sebuah bentang alam yang kehilangan kemampuannya menyimpan air. Gambut yang tidak lagi basah akan terbakar setiap kemarau. Sungai yang debitnya tidak terjaga akan kemasukan laut setiap kemarau. Keduanya bukan cuaca buruk. Keduanya adalah tagihan yang jatuh tempo setiap tahun, dan tahun ini jumlahnya kebetulan terbaca jelas.

Hujan akan turun. Air keran akan tawar lagi, langit akan biru lagi, dan antrean di depo akan bubar. Yang saya harap tidak ikut hilang bersama asapnya adalah ingatan bahwa keempatnya pernah menjadi satu.


Catatan ini ditulis dari Pontianak pada akhir Agustus 2026. Angka dan status dapat berubah cepat — untuk kondisi terkini, ikuti pengumuman resmi BPBD, Dinas Kesehatan setempat, dan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.

Sumber