Kebiasaan Kecil yang Menyusun Hari
Kenapa rencana besar saya selalu berhenti di minggu kedua, dan kenapa yang konyol-konyol kecil justru bertahan.
Saya tidak pernah benar-benar berhasil dengan perubahan besar.
Yang berhasil selalu yang kecil-kecil, dan biasanya saya baru sadar itu berhasil setelah berjalan berbulan-bulan tanpa saya perhatikan.
Bangun sedikit lebih awal. Membaca sepuluh halaman. Menulis satu paragraf. Jalan kaki sebentar. Satu-satu kelihatan sepele, dan memang sepele. Tapi yang sepele punya satu kelebihan yang tidak dimiliki rencana besar: ia masih sanggup dikerjakan waktu saya capek.
Kenapa yang kecil bertahan
Perubahan besar butuh tenaga besar, dan tenaga saya tidak selalu ada. Kebiasaan kecil murah ongkosnya, jadi ia lolos di hari-hari yang buruk. Dan hari buruk itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang saya kira waktu menyusun rencananya.
Saya sudah beberapa kali mencoba versi ambisiusnya. Polanya selalu sama: jalan dua minggu, satu hari terlewat, besoknya terlewat lagi, lalu berhenti sambil merasa gagal. Cukup sering terjadi sampai akhirnya saya berhenti menyalahkan disiplin saya sendiri dan mulai curiga pada ukurannya.
Aturan yang saya pakai
Kalau sebuah kebiasaan terasa berat, saya perkecil sampai terasa hampir konyol.
Bukan “menulis satu jam”, tapi “buka dokumen, tulis satu kalimat”. Ambang yang rendah bikin saya tetap muncul, dan ternyata muncul itu yang lebih menentukan daripada mengerjakannya dengan benar.
Ada efek samping yang tidak saya duga. Begitu sudah mulai, sering kali saya lanjut jauh lebih lama daripada target konyol tadi. Tapi itu bonus, dan saya menjaga supaya tetap jadi bonus. Begitu saya jadikan target, ambangnya naik lagi dan ceritanya balik ke awal.
Yang belum selesai
Saya belum punya cara yang bagus untuk kebiasaan yang hasilnya baru kelihatan bertahun-tahun lagi. Tidak ada umpan balik harian di situ, tidak ada rasa sedang maju. Yang bisa saya lakukan cuma menurunkan ambangnya serendah mungkin, lalu berhenti memikirkannya.
Belum tahu apakah itu jawaban yang benar. Sejauh ini masih jalan, jadi saya teruskan dulu.
Komentar
Berkomentar memerlukan akun GitHub. Tulisan Anda tersimpan sebagai diskusi publik di repositori situs ini.