Beberapa malam terakhir saya punya janji baru dengan diri sendiri, dan jamnya selalu sama: setengah sembilan malam.

Tidak ada persiapan besar. Sebuah HT genggam, antena, dan satu tombol PTT yang ditekan dengan tangan yang — pada malam pertama — sedikit berkeringat.

Namanya ORARI Nusantara Net. Sebuah net: pertemuan terjadwal di udara, dipimpin oleh seorang pengendali, tempat siapa pun yang mendengar boleh melapor bahwa ia hadir. Istilahnya check-in. Dan itu, secara harfiah, memang seluruh isi acaranya — orang-orang menyebutkan siapa mereka dan dari mana.

Kedengarannya sederhana sampai Anda melakukannya sendiri.

Menyebut nama sendiri di udara

Malam pertama, saya menunggu terlalu lama.

Pengendali net memanggil, jeda terbuka, dan saya tidak menekan apa pun. Bukan karena tidak tahu harus bilang apa — kalimatnya cuma enam karakter. Tapi ada jarak yang aneh antara membaca callsign sendiri di layar dan mengucapkannya keras-keras ke sebuah ruangan yang tidak terlihat.

Waktu akhirnya keluar juga, bunyinya begini:

Yankee Delta Seven Alpha Quebec Tango

Lalu jeda. Lalu pengendali mengulang callsign saya — mengeja balik, satu per satu, memastikan ia mendengar dengan benar — dan mencatatnya.

Itu saja. Tapi ada sesuatu yang selesai di detik itu. Ujian bulan lalu memberi saya enam karakter di atas kertas. Malam itu enam karakter tersebut berubah jadi sesuatu yang dipakai orang lain untuk memanggil saya.

Yang terdengar dari kursi saya

Yang membuat saya tidak beranjak sampai net selesai bukan giliran saya sendiri, melainkan giliran orang lain.

Satu per satu masuk. Mula-mula yang dekat — sesama Kalimantan, kota-kota yang namanya saya kenal, sebagian bahkan pernah saya lewati. Lalu jaraknya melebar. Sumatera. Jawa. Dan pada satu malam, sebuah suara dari Gorontalo.

Saya diam agak lama sesudah itu.

Coba bayangkan geografinya sebentar. Dari kursi saya di Pontianak ke Gorontalo itu menyeberang Selat Karimata, melintasi Laut Jawa, naik ke Teluk Tomini. Ribuan kilometer, beberapa laut, satu zona waktu. Sementara benda yang saya pegang cuma HT — perangkat yang muat di telapak tangan, dayanya beberapa watt, dan kalau dipakai di lapangan terbuka mungkin cuma sanggup menjangkau beberapa kilometer.

Dua fakta itu tidak masuk akal kalau ditaruh berdampingan. Kecuali kalau Anda tahu bagian yang di tengah.

Bagian yang di tengah

HT saya tidak pernah bicara dengan Gorontalo. HT saya cuma bicara dengan repeater.

Repeater adalah stasiun yang duduk di tempat tinggi dan kerjanya cuma satu: mendengar di satu frekuensi, memancarkan ulang di frekuensi lain, dengan antena yang jauh lebih baik dan daya yang jauh lebih besar daripada milik saya. Ia mengubah jangkauan beberapa kilometer menjadi jangkauan sekota.

Dan repeater-repeater ini disambungkan satu sama lain lewat jaringan. Suara yang masuk di Pontianak keluar lagi di repeater lain, ratusan atau ribuan kilometer jauhnya, lalu turun ke HT orang lain yang sedang duduk di ruang tamunya sendiri.

Jadi rantainya begini: HT saya menjangkau repeater. Repeater menjangkau jaringan. Jaringan menjangkau Gorontalo. Tiga lompatan, dan cuma lompatan pertama yang benar-benar saya kerjakan.

Jujur soal kebergantungan

Di sinilah saya harus jujur pada tulisan saya sendiri.

Di catatan tentang UNAR saya menulis bahwa radio amatir menarik justru karena kebergantungannya sedikit — satu perangkat, satu antena, satu sumber daya, dan orang yang tahu cara memakainya. Lalu di malam pertama saya mengudara, saya memakai jalur yang bergantung pada repeater, listrik di lokasi repeater, dan tautan antar-repeater yang di banyak tempat berjalan di atas internet.

Kalau internet padam, Gorontalo hilang dari HT saya. Rantai yang saya rayakan karena pendeknya, ternyata malam itu tidak sependek yang saya bayangkan.

Saya tidak mau memoles bagian ini. Tapi saya juga tidak menganggapnya membatalkan alasan awal saya, karena yang sedang dilatih di net bukan jangkauannya.

Yang dilatih adalah tata caranya. Menunggu giliran. Menyebut identitas dengan jelas. Mengeja pakai alfabet fonetik supaya tidak ada yang salah dengar. Bicara ringkas, lalu melepas PTT dan benar-benar mendengarkan. Mengikuti satu orang yang memegang kendali, meskipun tidak ada yang bisa memaksa Anda.

Disiplin itu tidak berubah kalau jalurnya berubah. Ia sama persis ketika jaringan mati dan yang tersisa cuma propagasi. Bedanya, saat itu terjadi, bukan waktu yang tepat untuk baru mulai belajar.

Net jam setengah sembilan ini latihannya. Malam-malam biasa, tanpa keadaan darurat apa pun, justru itu gunanya.

Yang saya bawa tidur

Sekarang jam 20.30 sudah jadi penanda di kepala saya, seperti azan atau berita malam. Kebiasaan kecil yang diulang pelan-pelan, dan ambang masuknya rendah sekali: cukup menyalakan HT dan mendengarkan.

Tapi yang paling saya suka dari net ini sebenarnya bukan jarak.

Ada orang-orang di Sumatera, di Jawa, di Gorontalo, yang malam itu juga menyisihkan sepuluh menit dari waktu tidur mereka untuk melakukan hal yang sama sekali tidak produktif: menyebutkan nama dan lokasi mereka, lalu mendengarkan orang lain melakukan hal yang sama. Tidak ada yang dijual, tidak ada yang dimenangkan, tidak ada algoritma yang mencatat.

Cuma sekumpulan orang yang memastikan jalurnya masih hidup, dan sekaligus memastikan mereka tidak sendirian di dalamnya.

Untuk sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa, rasanya cukup berharga.