Sejak menulis catatan tentang ETF emas bulan lalu, saya menjalankan kebiasaan kecil: tiap hari bursa, beli satu lot XGLD dan satu lot XTRA.

Dua produk itu saya pilih karena denominasi unitnya paling kecil di antara lima ETF emas yang tercatat — sekitar Rp256 dan Rp248 per unit, jadi satu lot masing-masing menebus Rp25 ribuan. Nominal yang keluar tiap hari tidak saya patok; ia mengikuti harga, dan rata-ratanya jatuh di sekitar Rp50.400.

Tulisan ini catatan sewaktu saya memeriksa apakah kebiasaan itu masuk akal. Jawabannya: dua dari tiga bagiannya sudah benar, dan satu bagian ternyata keliru — bagian yang paling tidak saya duga.

Berapa sebenarnya ongkosnya

Pertanyaan pertama yang wajar: dengan 490 order setahun, apakah saya digerus biaya transaksi?

Saya pakai Stockbit Sekuritas. Ini yang tertulis di halaman biayanya:

BeliJual
Saham0,15%0,25%
ETF, right, warrant0,15%0,15%

Komisinya murni persentase, tanpa minimum per transaksi. Ini bagian yang menentukan segalanya: kalau biayanya proporsional, memecah pembelian jadi 490 potong kecil tidak lebih mahal sepeser pun daripada memborong sekaligus. Order Rp25.000 kena komisi sekitar Rp38, dan 490 order kecil menjumlah persis sama dengan 12 order besar.

Setahun, dengan asumsi harga bergerak di volatilitas 15%:

Setahun
Order490
Dana tertanamRp12.350.205
Rata-rata per hariRp50.409
Fee broker 0,15%Rp18.525
Spread (asumsi setengah-spread 0,25%)Rp30.876
Total ongkosRp49.401 — 0,40%

Perhatikan baris yang saya tebalkan. Spread memakan hampir dua kali lipat komisi broker. Selisih harga bid dan ask tidak muncul di tagihan mana pun, tapi di ETF yang baru tercatat dan volumenya belum tebal, ia ongkos terbesar yang saya bayar. Membeli dua produk sekaligus juga berarti saya menyeberangi dua buku order, bukan satu.

Konsekuensi praktisnya cuma satu, dan itu gratis: pakai limit order, jangan market order. Menawar di harga yang wajar dan menunggu sebentar lebih murah daripada mengejar.

Catatan untuk yang brokernya berbeda: ada segelintir sekuritas yang memberlakukan minimum fee per transaksi, dan kalau Anda kena itu, seluruh hitungan di atas berubah total — 490 order kecil jadi jauh lebih mahal daripada 12 order besar. Praktik ini sudah jarang di Indonesia, tapi lima menit membuka lembar biaya Anda sendiri tetap sepadan.

Apakah harian lebih baik daripada bulanan?

Pertanyaan kedua, dan ini yang biasanya paling ramai diperdebatkan.

Saya simulasikan gerak harga acak berulang kali, membandingkan harga rata-rata per unit yang didapat kalau menyetor harian, mingguan, atau bulanan, dengan semua ongkos dinolkan supaya efek frekuensinya berdiri sendiri:

FrekuensiHarga rata-rataPersentil 5Persentil 95
HarianRp254,53Rp220,30Rp291,54
MingguanRp254,60Rp220,21Rp291,84
BulananRp254,72Rp219,73Rp292,91

Harian menang — dengan selisih 0,07% terhadap bulanan.

Sekarang lihat dua kolom kanan. Jarak antara skenario baik dan skenario buruk membentang sekitar 28%. Keunggulan frekuensi itu ada, tapi ia empat ratus kali lebih kecil daripada kebisingan yang menaunginya. Dalam praktik, ia tidak terasa.

Jadi kenapa saya tetap harian? Bukan karena unggul, tapi karena di Stockbit ia tidak berongkos lebih, dan dari dua pilihan berbiaya sama saya memilih yang paling tidak menuntut saya berpikir. Nilai DCA harian ada di perilaku, bukan di matematika: tidak ada hari di mana saya perlu bertanya “sekarang atau tunggu turun dulu?”.

Yang ternyata keliru

Sampai di sini saya sudah puas. Lalu saya sadari ada satu hal yang luput, dan efeknya lebih besar daripada seluruh perdebatan frekuensi di atas.

Saya membeli satu lot, tiap hari. Bukan sejumlah rupiah, tiap hari.

Kedengarannya perbedaan sepele. Ternyata ia menghapus satu-satunya keunggulan matematis yang dimiliki DCA.

Inti DCA bukan “beli rutin”. Intinya adalah nominal rupiahnya dikunci, jumlah unitnya dibiarkan bergerak. Waktu harga turun, uang yang sama memborong lebih banyak unit; waktu harga naik, ia kebagian lebih sedikit. Efeknya otomatis: Anda selalu membeli lebih banyak di harga murah, tanpa pernah memutuskan apa pun.

Kalau yang dikunci justru jumlah lotnya, mekanisme itu mati. Saya membeli 100 unit hari ini, 100 unit besok, sama banyak entah harganya sedang jatuh atau sedang mahal. Harga rata-rata yang saya dapat jadi rata-rata biasa dari seluruh harga harian — bukan rata-rata yang condong ke sisi murah.

Ini bisa dibuktikan tanpa simulasi apa pun. Ambil dua hari saja, harga Rp200 lalu Rp300:

Cara membeliUnit didapatTotal bayarHarga rata-rata
100 unit tiap hari200Rp50.000Rp250,00
Rp30.000 tiap hari250Rp60.000Rp240,00

Seluruh mekanismenya ada di kolom pertama. Dengan rupiah tetap, hari murah kebagian 150 unit sementara hari mahal cuma 100 unit — tanpa saya memutuskan apa pun.

Dan dua angka di kolom terakhir itu punya nama. Rp250 adalah rata-rata aritmetik dari harga harian: (200+300)/2. Rp240 adalah rata-rata harmonik: 2/(1/200+1/300). Untuk deret harga mana pun, rata-rata aritmetik tidak pernah lebih kecil daripada rata-rata harmonik, dan keduanya sama persis hanya bila harganya tidak bergerak sama sekali.

Jadi ini bukan strategi yang kadang menang kadang kalah. Mengunci rupiah tidak bisa kalah dari mengunci lot — itu sifat bilangan, bukan ramalan pasar. Yang perlu disimulasikan bukan apakah ia menang, melainkan seberapa besar, karena itulah yang bergantung pada seberapa liar harga bergerak.

Grafik batang: memilih frekuensi harian bernilai 0,07 persen, sementara mengunci rupiah alih-alih lot bernilai 0,37 sampai 4,03 persen tergantung volatilitas

Hasil simulasi di volatilitas 15%, memakai harga XGLD sebagai titik awal:

Cara membeliHarga rata-rata per unit
1 lot tetap tiap hari — yang saya lakukanRp255,77
Rp-tetap tiap hari — DCA sebenarnyaRp254,82
Selisih0,37%

Di jalur harga yang paling tidak menguntungkan sekalipun, selisih itu menipis sampai sekitar 0,03% — tapi tidak pernah hilang dan tidak pernah berbalik arah. Besarnya tumbuh bersama gejolak harga:

Volatilitas tahunanKeunggulan rupiah-tetap
15% — emas dalam keadaan normal0,37%
30%1,46%
50%4,03%

Bandingkan dengan keunggulan harian-atas-bulanan tadi: 0,07%. Cara menghitung nominalnya bernilai lima kali lipat dari frekuensinya — dan tidak seperti frekuensi, ia tidak tenggelam di kebisingan, karena arahnya tidak bergantung pada bagaimana pasar bergerak.

Saya menghabiskan berminggu-minggu memikirkan seberapa sering harus membeli, padahal soal yang lebih besar ada di kata pertama singkatannya. Dollar-cost averaging. Yang dirata-ratakan itu rupiahnya, bukan lotnya.

Jadi, saya ubah atau tidak?

Mari jujur soal besarannya sebelum buru-buru mengubah apa pun. Nol koma tiga puluh tujuh persen dari Rp12,35 juta adalah sekitar Rp45.500 setahun. Nyata, pasti, tapi tidak mengubah hidup.

Dan cara saya sekarang punya kelebihannya sendiri, yang tidak muncul di simulasi mana pun:

  • Tidak ada yang perlu dihitung. Buka aplikasi, beli satu lot, satu lot, selesai. Tidak ada pembagian, tidak ada sisa kas yang harus diingat.
  • Tidak ada uang menganggur. Metode rupiah-tetap menyisakan receh tiap hari yang harus menunggu sampai cukup untuk satu lot penuh. Metode satu-lot selalu terpakai penuh.
  • Nominalnya justru naik saat harga naik, yang bagi sebagian orang terasa lebih tenang daripada memborong deras saat harga jatuh.

Kelebihan terakhir itu, harus saya akui, adalah kelemahan yang menyamar. Membeli lebih banyak saat murah justru bagian yang membuat DCA bekerja.

Yang saya pilih: kompromi. Frekuensinya tetap harian, dua produk tetap jalan, tapi jumlah lotnya tidak lagi selalu satu. Saya patok anggaran harian di kepala — sekitar Rp50.000 — dan kalau harga sedang turun cukup jauh, satu lot saya jadikan dua. Bukan formula, cuma condong ke arah yang benar.

Itu tidak menangkap seluruh 0,37%, dan saya tahu itu. Tapi ia menangkap sebagian besar tanpa membuat kebiasaannya jadi pekerjaan — dan kebiasaan yang terasa seperti pekerjaan biasanya berhenti dalam tiga bulan.

Kenapa dua produk

Satu pertanyaan yang belum saya jawab: kenapa XGLD dan XTRA, bukan salah satu saja?

Alasannya bukan diversifikasi harga — keduanya melacak emas yang sama, jadi tidak ada risiko yang benar-benar tersebar. Yang tersebar adalah risiko pengelolanya: dua manajer investasi, dua bank kustodian, dua kebijakan yang bisa berubah.

Ongkosnya: saya menyeberangi dua spread, bukan satu. Dan setelah melihat bahwa spread adalah komponen biaya terbesar saya, itu bukan harga yang gratis.

Setelah beberapa bulan berjalan, saya berencana membandingkan keduanya pada hal yang benar- benar bisa diukur — seberapa rapat harga pasarnya menempel NAB, dan seberapa lebar spread-nya di jam sepi. Kalau salah satu ternyata konsisten lebih baik, tidak ada alasan sentimental untuk mempertahankan dua-duanya.

Catatan asumsi

Angka di atas simulasi, bukan data historis. ETF emas di BEI baru tercatat 10 Agustus 2026, jadi riwayat harganya belum cukup panjang untuk diuji serius.

Cara menghitungnya: saya bangkitkan jalur harga acak (gerak Brown geometrik) sepanjang satu tahun bursa, menjalankan tiap strategi pada jalur yang sama persis, lalu mengulangnya ribuan kali dan merata-ratakan hasilnya.

Yang saya asumsikan: harga awal Rp256 (XGLD) dan Rp248 (XTRA) per unit, fee beli 0,15%, setengah-spread 0,25%, volatilitas tahunan 15%, 245 hari bursa, tanpa arah naik atau turun yang diasumsikan. Semuanya bisa berbeda di kasus Anda. Perhitungan ini juga belum memasukkan biaya pengelolaan tahunan ETF (sekitar 0,3–0,5%) maupun perlakuan pajaknya, yang masih abu-abu.

Tarif Stockbit yang saya kutip adalah yang tercantum di halaman biaya resminya per September 2026. Lembar biaya bisa berubah kapan saja — jangan percaya angka di blog orang, termasuk blog ini.

Ini catatan pribadi, bukan rekomendasi investasi. Emas bisa turun, dan sudah pernah turun lama.