Menu Home

Krisis Energi dan Solusinya

Bukan untuk menakut-nakuti, kondisi dan beban negara nampaknya makin lama makin berat. Krisis demi krisis silih berganti datang menghantam negeri yang dikenal dengan slogan “gemah ripah loh jenawi”, negeri kaya sumber daya alam namun tak berdaya membuat makmur rakyatnya.

Beberapa bulan terakhir heboh Defisit Anggaran dan Tax Amnesty membuat terjadinya pemotongan anggaran di sana sini, dan dampaknya bahkan sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, pembangunan menjadi terhambat. Dan pergerakan ini tentunya menjadi melambat, letih, lemah dan lesu.

Nah, di artikel ini, saya mencoba membahas tentang Krisis Energi, krisis yang tak kalah dampaknya dan tentu saja sangat berpengaruh terhadap dampak krisis yang lebih besar. Tanpa energi, ekonomi bisa tidak berjalan, saya saja ngeri membayangkan misalnya tidak ada supply energi dalam waktu sejam (misalnya) secara serentak di seluruh wilayah tanah air.

Saat ini, berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM tentang kondisi energi nasional diketahui bahwa supply energi terbesar adalah berasal dari energi fosil dengan persentase 90%. Energi fosil ini terbukti memberikan dampak pada terjadinya perubahan iklim yang semakin menambah biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasinya, disamping juga jumlahnya yang terus berkurang.

Diketahui bahwa cadangan terbukti minyak bumi Indonesia sebesar 3,6 miliar barel, gas bumi sebesar 100,3 TCF. Dengan kondisi cadangan tersebut, maka jika terjadi produksi sebesar 288 juta barel per tahun, maka cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 13 tahun ke depan. Sementara gas bumi dengan produksi 2,97 TCF diperkirakan akan habis dalam 34 tahun ke depan.

Ngeri banget kan, saat ini saja Pemerintah mengimpor sekitar 50% kebutuhan bahan bakar minyak setiap harinya membuat Indonesia menjadi salah satu negara konsumen BBM yang cukup besar di dunia. Sekitar 850.000 barel per hari di impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak yang sudah mencapai sekitar 1.6 juta barel per harinya. Bayangkan saja, 1.6 juta barel dibakar tiap hari, dan 50% nya adalah hasil impor dari negara lain.

Sehingga tidak ada kata lain selain penggunaan Energi Baru Terbarukan yang seharusnya semakin ditingkatkan. Target 23% hingga tahun 2025 pun ditetapkan, berat memang, tapi adalah suatu keharusan agar bangsa ini segera sadar bahwa kita sudah masuk ke dalam krisis energi nasional yang semakin besar.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Bangsa ini memiliki Potensi Sumber Daya Alam yang sangat besar. Untuk EBT saja, Kementerian ESDM mencatat, bahwa potensi EBT di Indonesia mencapai 801,2 Giga Watt (GW). Namun yang baru dimanfaatkan hanya sebesar 8,66 GW atau hanya sekitar 1 % saja.

Contoh kecil yang saya yakin sebagian besar masyarakat Indonesia tidak tahu adalah, program Mandatori Biodiesel yang sekarang sudah mencapai 20% yakni dengan mencampur BBM dengan 20% biodiesel dari minyak sawit yang diproduksi di dalam negeri.

Kalau tidak salah, di Kalimantan Barat sendiri ada satu perusahaan yang mendapatkan tugas proses pencampuran BBM tersebut. Jadi para pengguna BBM berjenis Solar, patut berbangga bahwa ternyata mesin kendaraannya mampu beroperasi dengan jenis bahan bakar bernama BioSolar.

Namun peningkatan penggunaan EBT sebagai solusi merupakan langkah yang tidak mudah. Banyak biaya yang dikeluarkan di sektor ini. Kondisi negara yang mengalami defisit anggaran tentu saja sangat berpengaruh bagi keberhasilan pencapaian target 23% yang tampaknya semakin sulit untuk dicapai.

Pembangunan proyek 10.000 MW saja mangkrak, nah ini ditambah proyek 35.000 MW yang saya yakin bakal mangkrak juga. Sudah ada informasi-informasi sekilas yang menyatakan bahwa banyak proyek-proyek tersebut bergerak “statis” alias tidak bergerak.

Oleh karena itu, dukungan dari kita semua rakyat Indonesia dan Pemerintah perlu semakin ditingkatkan. Agar cita-cita bangsa Indonesia untuk makmur khususnya makmur energi dapat tercapai. Dengan harapan agar tidak ada lagi bagian tanah dari bangsa ini yang merasa belum merdeka karena belum merasakan keadilan dalam energi.

Categories: Opini

Tagged as:

rizko

Tinggalkan Balasan